GIZI BURUK MENGHANTUI GENERASI INDONESIA

176
Sumber: indonesiakaya.com

Pada rubrik kolom sosial geotimes.co.id, Aura Asmaradana mengungkap bahwa berpulangnya Theresia Bewer (3 tahun), seorang anak penderita gizi buruk dan radang paru-paru dari Kampung Beriten, Distrik Agats, menjadi cambuk bagi setiap lapisan masyarakat Indonesia.

Isu ini kelas kakap. Perhatian masyarakat Indonesia layak dibetot menuju hal ini. Theresia bukan yang pertama. Sudah ada 62 anak—paling tidak yang tercatat—yang meninggal dunia karena campak dan gizi buruk dalam empat bulan terakhir. Memang, perjalanan yang jauh dan berat serta biaya yang mahal bukan alasan untuk mengabaikan nyawa manusia. Bukan berarti tak ada yang peduli pada Agats, pada Papua.

Berangkat dari masalah ini, diduga salah satu penyebab timbulnya gizi buruk pada anak di Agats, Kabupaten Asmat, Papua, adalah cacingan. Hal itu ditemukan pada sejumlah pasien gizi buruk yang ditangani tim dokter dari Kementerian Kesehatan.

Mengutip berita yang disiarkan cnnindonesia.com menuliskan,  Dr. Ratri SpGK., salah satu dokter spesialis dari Kemenkes di Asmat, mengatakan bahwa cacingan pada anak menjadi penyebab minimnya gizi yang diserap tubuh. Sebab, nutrisi makanan diambil oleh cacing.

“Ada beberapa pasien gizi buruk yang disertai cacingan,” kata dia, melalui keterangan resmi Biro Komunikasi dan pelayanan Masyarakat Kemenkes, Sabtu (20/1).

Untuk menanganinya, Kemenkes melakukan program penatalaksanaan gizi, rehidrasi, pemberian multivitamin dan obat cacing. Selain itu, pemberian nutrisi yang tepat dan sesuai menjadi langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan berat badan anak dengan status gizi buruk di Asmat.

Melalui metode ini, diharapkan anak dengan status gizi buruk mengalami peningkatan berat badan sedikitnya rata-rata 5 sampai 10 gram per kilogram per hari. “Sedikitnya, dibutuhkan waktu sekitar 9 sampai 10 hari untuk memantau kemajuan berat badan,” ujar Ratri.