GEMPA BUMI, WASPADA PANIC DISORDER

239
Sumber : tophealthclub.com

Gempa bumi yang berlangsung pada Selasa, 23 Januari 2018 menimbulkan kepanikan luar biasa bagi masyarakat di ibukota. Tak hanya itu, gempa 6,1 skala Richter (SR) yang berasal dari Lebak terus itu menelan banyak korban luka-luka dan material.

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak, 12 kecamatan terdampak gempa kuat yang mengguncang wilayah itu.

Ada 311 bangunan yang rusak, di antaranya di Bayah 41 bangunan, Wanasalam 6, Panggarangan 92, Cilograng 26, Lebak Gedong 11, Sobang 2, Cimarga 2, Sajira 1, Cirinten 6, Cihara 1, Bojong Manik 3, dan Cijaku 120.

Selain korban material di lokasi terdekat dengan pusat gempa. Beberapa masyarakat yang siang itu sedang beraktifitas di sekitar Depok, Jakarta, dan Tangerang pun mengalami kepanikan.

Panik yang sewajarnya akan mudah disembuhkan. Dengan cara menenangkan diri dan meminum air putih beberapa gelas untuk menormalkan kembali detak jantung.

Sementara tidak menutup kemungkinan orang mengalami panic disorder.  Panic Disorder adalah kondisi serius yang menimpa sekitar 75 orang setiap harinya. Penyakit ini sering muncul pada tubuh penderitanya di saat-saat yang menegangkan atau membuat stress seperti saat kelulusan dari kuliah, kelahiran anak pertama, dan sebagainya.

Pada website  apa.org  dalam kolom Psychology Topics menuliskan, penyebab lain yang mungkin terjadi adalah faktor hereditas karena anak yang memiliki orang tua berpenyakit panic disorder punya kemungkinan lebih besar dibanding orang lain untuk terkena serangan penyakit ini.

Sumber : helloflo.com

Penyakit ini menyerang secara tiba-tiba tanpa ada peringatan atau sebab yang jelas. Penderita biasanya merasakan takut yang amat sangat, jauh lebih takut dibanding yang biasa dialami orang lain. Selain takut, gejala lain yang biasa timbul antara lain:

  • Detak jantung yang meningkat
  • Kesulitan bernapas, seolah udara di sekitarnya habis
  • Kepala pusing atau muak
  • Tubuh gemetar, berkeringat, bahkan bergetar hebat
  • Merasa tercekik, dada terasa sakit untuk bernapas
  • Tiba-tiba merasa panas di sekujur tubuh atau merasa dingin
  • Kesemutan di jari tangan atau kaki
  • Ketakutan yang amat sangat (penderita biasanya berpikir bahwa dia bisa jadi gila atau akan mati saat penyakit ini menyerang)

 

Biasanya saat penderita panic disorder sedang kambuh, dia terlihat seperti sedang panik biasa, serangan panik yang diterima orang-orang di dalam keadaan genting atau menegangkan. Tetapi penyakit panic disorder ini menyerang tanpa sebab, bisa terjadi di saat damai atau bahkan terkadang menyerang penderitanya di saat tidur.

Penyakit panic disorder dapat dibedakan dari penyakit panik biasa dengan ciri-ciri di antaranya:

  • Serangan paniknya terjadi secara tiba-tiba, tanpa sebab dan tak bisa dihentikan
  • Level ketakutan atau paniknya seringkali tak masuk akal, terlalu berlebihan, bahkan nggak nyambung.
  • Gejala ketakutan berlebihan bisa menghilang setelah beberapa menit, bisa juga tidak.

 

Panic disorder tidak berbahaya, tetapi bisa berakibat fatal karena perasaan gila dan takut berlebihan yang dialami penderita. Ketakutan ini bisa merembet menjadi fobia pada sesuatu, depresi, kebiasaan menyakiti diri sendiri, komplikasi, hingga mengakibatkan penderitanya bunuh diri.

Dampak penyakit ini beragam mulai dari rendahnya kepercayaan diri, merasa tidak bisa cocok dengan lingkungan, hingga tidak bisa menghadapi dunia luar (istilah lainnya hikikomori)

 

Pada kehidupan sehari-hari, fobia yang diakibatkan oleh penyakit ini tak seperti fobia lain yang biasanya menimbulkan ketakutan terhadap sesuatu barang atau benda atau kondisi. Fobia pada penderita penyakit panic disorder lebih karena mereka takut benda atau kondisi tersebut akan memicu kejadian mengerikan (mencelakai mereka), karena itulah mereka jadi panik dan ketakutan luar biasa. Jadi bukan karena benda atau kondisinya yang menakutkan.

Studi lebih lanjut menerangkan bahwa perempuan dua kali lebih rentan terhadap penyakit ini. Penyakit ini juga bisa diturunkan melalui faktor hereditas, seperti contoh bila salah satu orang tua menderita penyakit panic disorder, maka anaknya memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena penyakit yang sama, begitu pula dengan saudara kembar.

Meski sering menyerang tiba-tiba, penderita penyakit panic disorder masih bisa hidup normal. Dengan pengobatan teratur dan terapi, penyakit ini tidak akan membawa dampak permanen.

Namun apabila tidak ditangani secara tepat, panic disorder dapat menyebabkan konsekuensi yang serius, mulai dari ketakutan yang berujung fobia. Dalam kasus ekstrem, seorang penderita panic disorder bisa menderita agoraphobia (takut keluar rumah).

Pada awalnya mereka takut mengemudi karena takut akan ada kecelakaan menimpa mereka di jalan, lama kelamaan penderita akan fobia untuk mengemudikan mobil, lalu fobia mengemudikan kendaraan apapun, hingga akhirnya fobia pergi ke luar. Penderita yang seperti ini berpikir bahwa tinggal di dalam rumah akan menghindarkan mereka dari kejadian mengerikan apapun.

Sumber: expertbeacon.com

Para penderita penyakit ini umumnya:

  • Punya kecenderungan untuk kecanduan alkohol dan obat-obatan jauh lebih besar
  • Punya kecenderungan untuk bunuh diri lebih besar
  • Menghabiskan lebih banyak waktu di rumah sakit
  • Tak punya banyak waktu untuk menyalurkan hobi
  • Biasanya bergantung pada orang lain
  • Lebih lemah secara fisik dan mental dibanding orang non-penderita
  • Lebih punya fobia untuk mengemudi dibanding kebanyakan orang