Minyak kelapa sawit adalah minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di planet ini. Menurut World Wildlife Fund (WWF), sekitar 50 persen produk minyak kemasan yang dijual di supermarket menggunakan minyak nabati. Hal ini tumbuh pesat di Asia Tenggara dan digunakan dalam produk yang beragam seperti es krim, pasta gigi, dan deterjen.

Kebutuhan lahan untuk menanam pohon kelapa sawit telah mengakibatkan penghancuran dan konversi habitat hutan hujan tropis yang cepat dan merajalela menjadi perkebunan. Hal ini mengancam ekosistem penting, menggusur dan membunuh spesies terancam dan hampir punah, di antaranya orangutan, harimau, gajah dan badak. Diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah, jumlah orangutan telah turun secara dramatis selama beberapa dekade ini. Jika tak segera dihentikan, kita akan melihat akhir dari ordo primata tersebut.

Budidaya kelapa sawit yang semakin merajalela di Borneo, Indonesia, mengancam primata yang terancam punah ini, memaksa spesies yang hidup arboreal berperilaku yang tidak biasa, seperti mengarungi sungai yang dipenuhi buaya untuk bertahan hidup. (Jayaprakash Joghee Bojan / National Geographic)
Bayi orangutan berusia 2 tahun, Dalai terlihat di kebun binatang di Dresden, Jerman, 30 Maret 2017. Dalai lahir dari sang ibu, Daisy pada bulan Juni 2015. (FILIP SINGER/EPA)
Orangutan borneo jantan yang ditemukan peneliti saat bergerak di sepanjang rawa Tuanan di Kalimantan Tengah. Meskipun orangutan menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan, beberapa jantan sering turun dan berjalan jauh di tanah. (Tim Laman/National Geographic)
Petugas satwa liar menyita bayi orangutan yang dipelihara secara ilegal sebagai hewan peliharaan. Para pekerja di pusat penyelamatan akan mencoba untuk mengajarkan bayi orangutan itu bagaimana bertahan di alam liar, namun pelatihan ini dianggap kontroversial, dan menemukan hutan yang sesuai untuk melepaskan primate ini untuk berkembang semakin sulit. (Tim Laman / National Geographic)
Orangutan Sumatera yang baru tiba dibawa oleh anggota staf untuk penilaian oleh Program Konservasi Orangutan Sumatra (SOCP), di Stasiun Reintroduksi dan Karantina di Jantho, Aceh Besar, Indonesia. (Hotli Sumanjuntak/EPA)
Bayi jantan orangutan berusia dua tahun, Dalai bertumpu pada ibunya Daisy di kebun binatang di Dresden, Jerman, 30 Maret 2017. (FILIP SINGER/EPA)
Orangutan sumatera diberi obat oleh staf Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP), di Stasiun Reintroduksi dan Karantina Jantho, Aceh Besar, 21 September 2017. Staf SOCP bertujuan untuk merehabilitasi orangutan agar dapat dibebaskan ke alam liar, sebagian besar telah kehilangan habitatnya dari penebangan liar yang meluas dan penghancuran hutan untuk perkebunan kelapa sawit. (Hotli Sumanjuntak/EPA)
Staf Pelestarian Orangutan Sumatra (SOCP) bersiap untuk membebaskan Orangutan Sumatera kembali ke alam liar di sebuah pusat fasilitas karantina di Batu Mbelin, Deli Serdang, Sumatra Utara, 19 September 2017. SOCP bertujuan untuk merehabilitasi orangutan agar dibebaskan ke alam bebas, sebagian besar telah kehilangan habitatnya dari penebangan liar yang meluas dan penghancuran hutan untuk perkebunan kelapa sawit. (Dedi Sinuhaji/EPA)
Orangutan Sumatera bertumpu pada pohon di Program Konservasi Orangutan Sumatra (SOCP), di Stasiun Reintroduksi dan Karantina di Jantho, Aceh Besar, Indonesia. Perkebunan kelapa sawit yang dibangun di atas hutan hujan tropis telah menghancurkan dan mengakibatkan kematian banyak spesies, termasuk orangutan yang terancam punah. (Hotli Sumanjuntak/EPA)