Hijaudaun.net – Tahun lalu program gizi seimbang telah menghabiskan total APBN sekitar Rp 60 triliun untuk 12 kementerian/lembaga yang terlibat penanganan stunting pada anak. Meningkatkan gizi seimbang ini bukan saja masalah tentang gizi buruk saja. Tapi kelebihan gizi pun tidak baik bagi anak-anak.

Stunting ialah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga berakibat anak tersebut terlalu pendek untuk seusianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan. Dimulai pada masa awal kehamilan. Gejala stunting baru tampak setelah anak berusia 2 tahun. Stunting akan berdampak pada tingkat kecerdasan anak yang biasanya mengalami penurunan, kerentanan terhadap penyakit, dan penurunan produktivitas.

Akibat dari kelebihan gizi pada anak adalah obesitas sejak dini. Bayi yang memiliki berat badan berlebih akan mengidap penyakit obesitas. Bukan hanya itu, penyakit yang bisa menimpa anak-anak akibat kelebihan gizi yakni masalah persendian, gangguan tidur hingga kardiovaskular. Hal ini memang tidak baik untuk anak, akan tetapi disarankan orangtua jangan membatasi makan anak atau menyuruh diet. Karena, bagaimana pun masa anak-anak adalah masa pertumbuhan, sehingga tidak baik untuk membatasi si anak.

Makanan menjadi faktor utama kelebihan gizi. Saat ini, anak dan balita banyak sekali dijejali dengan junk food dan Fast Food yang memang tidak seharusnya mereka konsumsi. Bahkan sosis dan nugget atau makanan olahan pabrikan pun sebisa mungkin untuk dihindarkan dari menu anak-anak. Sebab, dari makanan itulah gizi berlebih yang sering menimpa mereka.

Kouboura Ali, yang berusia 8 bulan, yang tidak dapat menerima makanan secara oral karena menderita kekurangan gizi, berteriak saat dia menerima suntikan antibiotik oleh seorang dokter di ruang perawatan intensif di rumah sakit di N’Gouri. (Ben Curtis/AP PHOTO)
Seorang anak duduk di jalur kereta api dekat kios sayuran terbuka di Jakarta. (REUTERS / Beawiharta)
Anak-anak berdiri di dalam rumah mereka di atas danau yang terkontaminasi sampah di daerah kumuh Jakarta Utara. (REUTERS/Supri)
Seorang pengungsi Sudan Selatan duduk di sebuah tikar di luar tenda komunal dengan saudaranya di pusat penerimaan Imvepi, tempat pengungsi yang baru tiba diproses di Uganda utara Jumat, 9 Juni 2017. (AP Photo/ Ben Curtis)
Anak-anak berebut menerima jatah makanan yang diberikan oleh badan amal setempat, di Sanaa, Yaman, Kamis, 13 April 2017. (AP / Hani Mohammed)
Seorang anak yang kekurangan gizi menerima perawatan kesehatan di pusat makanan yang dikelola oleh Doctors Without Borders di Maiduguri Nigeria, dekat wilayah Danau Chad, Agustus 2016. (AP / Sunday Alamba)
Nyanen, Anak berusia lima tahun ini mengikuti program pemberian makan CARE untuk malnutrisi parah di Sudan Selatan. (Josh Estey/CARE)
Di daerah pedesaan India, puluhan ribu orang tua kekurangan waktu untuk merawat anak mereka dengan baik karena mereka harus bekerja untuk mengolah hasil panen. Mereka juga kekurangan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak. Faktor-faktor ini berkontribusi terhadap tingkat malnutrisi yang sangat tinggi. (Sanjit Das/Panos for ACF)
Nadia Nassrallah yang berusia tiga tahun makan di sebuah perkampungan kumuh di pinggiran Islamabad, Pakistan. (Muhammad Muheisen/AP Photo)
Para pengungsi Somalia di kamp pengungsi Dagahaley membawa anak-anak mereka yang sakit dan kekurangan gizi ke pusat makanan baru yang dikelola oleh Doctors Without Borders di pinggiran kamp pengungsi yang luas di Kenya. (Brendan Bannon / Gambar Polaris)
Murid di Tiongkok menggunakan beban selama latihan di sebuah kamp yang dibuat untuk anak-anak dengan berat badan berlebih di Beijing. (Kevin Frayer / Getty Images)
Anak-anak China yang gemuk berolahraga di pusat kebugaran saat sebuah kamp pelatihan militer di Shenyang Artillery College di kota Shenyang, provinsi Liaoning, China timur laut. (Imaginechina)
Anak-anak obesitas di sebuah kamp pelatihan untuk memerangi obesitas beraktifitas tarik tambang di Shenyang, provinsi Liaoning, China timur laut. (AP Photo)
Anak laki-laki asal Changchun, Provinsi Jilin, China ini sejak Maret lalu mengalami sindrom Prader-Willi atau gangguan kronis genetik langka, dengan gejala umum adalah kelemahan otot dan nafsu makan yang mengarah pada obesitas. (Tian Weitao CHINA OUT/EPA)
Bocah obesitas, Arya Permana, mandi di dalam kolam yang dibuat khusus untuk mandi di halaman rumahnya di Karawang, Jawa Barat, Senin, 13 Juni 2016. Bocah berusia 10 tahun tersebut memiliki berat badan mencapai 192 kilogram. [TEMPO/STR/Aditya Herlambang Putra]