DIALOG SAMPAH PENDAKIAN

6

Mendaki gunung merupakan salah satu hobi yang paling banyak diminati saat ini, terutama bagi para remaja. Tak heran jika hampir setiap hari saat menengok media sosial kita disuguhkan dengan berbagai macam foto berlatarbelakang gunung atau padang savana. Namun, semakin banyaknya pendaki gunung tak lepas juga dengan yang namanya sampah. Masih ada pendaki yang masih saja meninggalkan sampah mereka di gunung. Ternyata persoalan sampah tidak hanya terjadi di perkotaan saja, melainkan menjadi masalah berat di gunung dan hutan.

YOT Banyuwangi merupakan sebuah komunitas anak muda yang berfokus pada beberapa bidang, salah satunya terdapat divisi green yang fokus terhadap lingkungan hidup. Tanggal 18 juli 2021, YOT Banyuwangi mengadakan dialog santai di akun instagram mereka membahas tentang sampah pendakian. Dalam dialog tersebut menghadirkan Akbar Satria Nugraha Syamsudin yang aktif di organisasi 851 rescue yang merupakan Banyuwangi SAR Independent. Dialog yang berlangsung sekitar satu setengah jam tersebut membahasa tentang sampah dan cara agar sampah pribadi saat mendaki gunung bisa dibawah turun dan segera membuah ditempat yang benar.

“Banyak pendaki yang masih kurang mengerti tentang manajemen sampah, ingin menikmati alam tapi masih merusak alam itu sendiri, salah satunya dengan membuang sampah di gunung.” Ucap Virga Puspita, moderator acara saat memulai dialog sampah pendakian.

Akbar menjelaskan bahwa yang terpenting saat mengurus sampah pribadi di gunung adalah merubah pola pikir kita jika sampah tersebut memang harus dibawa turun tidak boleh ditinggal. Ia juga menambahkan bahwa setiap pendaki harus memiliki ilmu manajemen sampah, yakni mengatur apa saja barang yang memang diperlukan saat pendakian.

Pengelolah gunung atau wisata juga turut andil dalam mengatur sampah di gunung. Pengelolah memiliki kewajiban agar meneliti barang bawaan pendaki sebelum membawa barang-barang tersebut naik ke gunung.

“Sudah ada beberapa gunung di Indonesia yang memiliki sistem pengecekan barang sebelum para pendaki naik. Yang saya ingat kalau tidak salah di Gunung Andong, jika membawa turun semua sampah pribadi mereka maka pihak pengelolah memberikan sebuah cindera mata sebagai hadiah telah membawa sampahnya kembali. Ini merupakan bentuk bagus yang dilakukan oleh pihak pengelolah gunung,” kata Akbar.

Selain itu, Akbar mengatakan bahwa selain paham dan mengerti manjamen sampah, pendaki juga harus siap fisik dan mental. Pendakian bukan hanya sekedar jalan-jalan biasa tetapi harus memiliki fisik yang kuat agar saat mendaki dan turun dengan selamat. Salah satu alasan mengapa sampah masih terdapat dipuncak adalah mereka sudah kelelahan yang akhirnya berakibat membiarkan sampah mereka masih tertinggal.

“Memiliki pola pikir bawah turun sampahmu harus ada dalam diri masing-masing. Walaupun pihak pengelola sudah membuat tempat sampah diatas, tetapi kita tidak bisa mengandalkan itu. Tidak setiap hari pengelola atau relawan mengambil sampah setiap hari. Ini sudah kewajiban kita membawa dan memilah sampah. Kalau bukan diri sendiri siapa lagi?,” ucap Akbar.

Akbar juga mengatakan bahwa persoalan sampah bukan hanya di gunung saja, hampir semua tempat sampah menjadi polemik hingga saat ini. Yang paling sederhana yang kita lakukan adalah di sekitar rumah kita, bagaimana kita mengolah sampah dengan baik. (*)