HARI TANPA BAYANGAN DI PONTIANAK 21 MARET 2018

253
Sumber: theatlantic.com

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memprediksi fenomena siang hari tanpa bayangan bakal terjadi di sejumlah kota atau pulau sekitar garis khatulistiwa. Peristiwa itu akan terjadi pada Maret, April, September dan Oktober.

Lembaga itu menjelaskan hal tersebut terjadi karena Bumi beredar mengitari matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar Bumi berbentuk agak lonjong sehingga bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat.

Sejumlah kota yang bakal mendapatkan fenomena tersebut di antaranya adalah Pontianak, Kalimantan Barat dan Denpasar, Bali.

Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN Rhorom Priyatikanto mengatakan pada 21 Maret dini hari, matahari akan tepat di atas ekuator. Namun, matahari akan berada tepat di atas kepala saat tengah hari. Dapat dikatakan, kondisi ini memiliki deklinasi atau nilai jarak matahari ke ekuator langit.

Sumber: istimewa

Tepat pada  21 Maret siang nanti, bayangan mereka di Kota Pontianak akan “menghilang” sejenak. Fenomena tersebut terjadi lantaran posisi matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa.

“Saat itu, objek yang berdiri tegak di ekuator akan tampak hampir tak memiliki bayangan,” kata Rhorom dalam keterangannya yang disampaikan kepada cnnindonesia.com

Walaupun demikian, dia menuturkan, pohon rindang tetap akan memiliki bayangan dalam peristiwa tersebut.

Dia juga menegaskan ada dampak yang bakal terjadi dalam fenomena itu. Di antaranya, matahari akan lebih terik dibandingkan solstice atau saat matahari berada di titik paling utara dan paling selatan.

“Matahari melintas di atas kepala sehingga saat itu matahari akan lebih terik dibandingkan saat solstice,” kata dia.

Rhorom juga menegaskan dampak lainnya adalah tidak adanya perubahan gaya gravitasi bumi atau matahari. Selain itu, ada pula perubahan musim di wilayah Indonesia.

 

Sumber: Cosmopoetry.com

Advertisment Posisi matahari ini akan tampak berada di wilayah koordinat 23.5° Lintang Utara dan 23.5° Lintang Selatan, seperti di kota Pontianak, setiap tanggal 21 Maret dan 23 September setiap tahunnya. Kota-kota di luar garis khatulistiwa juga akan mengalami fenomena tersebut, tetapi tergantung akan koordinat lintang wilayahnya dan posisi deklinasi matahari.

Untuk Jakarta, fenomena tersebut terjadi pada tengah hari setiap tanggal 4 Maret dan 8 Oktober. Sementara di Belitung, fenomena terjadi setiap 13 Maret dan 1 Oktober. Hal serupa juga terjadi di Kota Sabang pada 5 April dan 8 September dan Kota Solo setiap 1 Maret dan 18 Oktober.